Friday, October 5, 2018

Drama Jepang

Salah satu yang membuat saya suka Jepang adalah Drama Jepang, atau bisa juga disebut sinetron. Uniknya, drama Jepang ini dibandingkan dengan drama Indonesia atau sinetron indonesia adalah jumlah serinya yang sedikit, biasanya sekitar 10-12 seri saja dan biasanya satu serial drama Jepang habis ditayangkan dalam satu musim saja, misalnya untuk drama musim gugur ditayangkan dari bulan Oktober sampai bulan Desember. Karena ceritanya pendek, jadi penontonpun tidak terlalu berlarut-larut terlalu lama menunggu akhir ceritanya.

Cerita yang diambil untuk dijadikan dramapun beragam, dari mulai cerita komik percintaan abg, kisah percintaan dewasa, cerita pekerja, ada juga yang diambil dari novel bahkan ada juga yang diambil dari cerita non fiksi atau sejarah.

Berikut adalah rekomendasi dari saya sekilas mengenai beberapa judul drama Jepang beserta nama stasiun televisi yang menayangkannya.

ー天皇の料理番tbs
ーマーさんnhk
ー半分青い nhk
ー義母と娘ブルーズ tbs
ー君は私の運命  nitere
ー偽装結婚 nitere
ーカホコのかほこ nitere
ー陸王tbs
ーライフtbs
ークラゲ姫 fujiterebi
ーDoctor X 朝日tv
ーボディガード
ー家族の形

Tuesday, September 25, 2018

Aki Higan

Ambilkan Bulan Bu......

Sudah melongok ke angkasa kemarin malam dan hari ini?
Tanggal 23 September kemarin adalah Aki Higan 秋彼岸, bahasa Inggrisnya Equinox Day. Saya sudah pernah menulis tentang Haru Higan dan isinya kurang lebih sama. Yaitu kebiasaan nyekar ke makam dan makan ohagi. Yang belum pergi ke makam masih bisa sampai hari Rabu nanti (26 September) kok, karena memang Higan itu dimulai 3 hari sebelum hari Higan dan berakhir 3 hari sesudahnya. Biasanya kalau pergi nyekar pas pada hari Higan, jalanan akan macet dan bunga akan mahal (hhihihi kok seperti di negara kita ya? Eh tapi ini kalau beli di dalam kuilnya kok).

Bertepatan dengan AkiHigan, biasanya juga ada yang disebut dengan Tsukimi 月見, harafiahnya “melihat bulan”. Tentu bukan melihat burger dengan telur ceploknya Mac Donald, tapi memang dipakai sebagai waktu untuk menikmati bulan yang memang cantik di musim gugur ini. Malam ini kebetulan juga (terlihat) sebagai bulan purnama (ternyata tidak selalu Tsukimi pas bulan purnama, bisa kurang dikit, atau lebih dikit). Sebetulnya purnamanya baru besok tuh katanya :D

Nama kerennya 中秋の名月(ちゅうしゅうのめいげつ) Chushunomeigetsu, atau yang diingriskan sebagai Mid-Autumn. Kalau di Cina, Singapore, Taiwan banyak yang makan Moon Cake, tapi di Jepang biasanya makan Tsukimi Dango (bukan Tsukimi Burger ya hehehe). Sambil menikmati keindahan bulan, makan dango dan minum teh hijau (atau sake :D ).

Chushunomeigetsu ini juga disebut Malam ke 15 十五夜. Nah loh, 15nya dapat dari mana ya? Menurut penanggalan kuno, sebetulnya yang disebut musim gugur itu dari bulan Juli sampai September. Pertengahan musim gugur itu jadinya bulan Agustus, tepatnya tanggal 15 Agustus. Tapi penanggalan sekarang kira-kira terlambat 1 bulan, sehingga yang dinamanya 十五夜 itu adalah pertengahan September, waktu bulan purnama.  Tapi ternyata dari survei selama ini, kesempatan kita melihat bulan jelas dan indah itu hanya 67%-an saja. Karena biasanya pada hari ke 15 十五夜 itu hujan. Karena garis curah hujan biasanya berada di atas kepualauan Jepang.

Sudah sejak dulu kala, orang Jepang memuja Bulan. Tapi baru sekitar abad ke 9 (Zaman Heian), bangsawan berkumpul minum sake sambil memandang bulan. Untuk masyarakat biasa, baru mulai zaman Edo (1600-) ikut menikmati bulan seperti kalangan istana. TAPI masyarakat biasa itu lebih memuja bulan dengan Tsukimi karena menjelang panen. Festival panen padi, sehingga mereka berkumpul sambil berharap semoga panen berhasil. Di beberapa daerah mulai memasang orang-orangan yang disebut kakashi 案山子.

Pada acara tsukimi biasanya orang Jepang menghias dengan daun susuki yang seperti alang-alang. Rupanya ini menyerupai padi, sehingga dianggap bisa menghalau roh jahat. Tsukimi dango, yaitu mochi bulat yang putih menyerupai bulan ini disusun menyerupai piramid. Jumlahnya 15 karena Malam yang ke 15. Dan mochi yang teratas dianggap menjadi jembatan dengan dunia lain. Selain tsukimi dango, susuki, biasanya di pertanian menghias dengan panenan ubi, chestnut dan edamame. Tapi terutama satoimo, karena sebetulnya nama lain dari chushunomeigetsu adalah imomeigetsu.

Nah, jika tidak bisa menikmati Malam ke 15, atau Tsukimi hari ini, sebetulnya kita juga bisa menikmati Malam ke 13 十三夜dan ke 10 十日夜. Loh, kan mestinya sudah lewat?
Ternyata menurut perhitungan Malam ke 13 itu jatuh pada tanggal 21 Oktober 2018 dan Malam ke 14 jatuh pada tanggal 17 November. Tapi memang bulan purnama di musim gugur dan dingin indah ya. Mungkin karena kita (mulai) merasa dingin, melankolis dan romantis.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, mengapa di bulannya orang Jepang terlihat bayangan kelinci yang sedang membuat mochi? Apakah kita orang Indonesia juga sama melihat ke bulan dan membayangkan kelinci? Berdasarkan survei lagi, ternyata yang melihat di bulan itu ada kelinci hanya di daerah Asia (Jepang, Cina, Korea), sedangkan daerah Eropa misalnya melihat ada bayangan wanita, atau di Arabia melihat singa. Kenapa kelinci?

Di Jepang ada cerita turun temurun bahwa ada kelinci yang tinggal di bulan. Dan ini sebetulnya berasal dari cerita agama Buddha seperti begini:

Dahulu kala kelinci, rubah dan monyet. Suatu hari mereka bertemu seorang kakek tua yang lelah dan kelaparan. Kemudian mereka bertiga mengumpulkan makanan untuk si kakek. Monyet pergi ke gunung dan mengumpulkan buah. Rubah pergi ke sungai dan mengambil ikan. Kelinci mencari dan mencari, tapi tidak mendapat apa-apa. Karena tidak mendapat apa-apa, kelinci kemudian berkata, “Silakan makan saya!”, dan dia terjun ke api, supaya dagingnya bisa dimakan oleh si kakek. Rupanya si kakek adalah Taishakuten, (Shakra, Mahadewa) yang hendak menguji ketiganya. Terharu pada kelinci, Taishakuten mengirim kelinci ke bulan, supaya menjadi teladan semua orang.

Sedih ya... saya juga baru tahu cerita kelinci yang sedalam ini. Tapi kenapa kelinci harus membuat mochi di bulan? Ada versi yang mengatakan bahwa si kelinci membuat mochi untuk si kakek, atau si kelinci tidak akan kelaparan. Tapi yang paling masuk di akal adalah bahwa Festival Mid Autumn itu merayakan panen, yaitu beras. Dan mochi berasal dari beras. Dilambangkanlah beras menjadi mochi dalam legenda turun temurun di masyarakat Jepang.

Kita bisa mengakui bahwa Jepang memang membawa unsur-unsur penting kehidupan manusia dalam kebudayaannya, dan menghargai setiap unsur sebagai suatu hadiah dari alam, jika tidak bisa mereka katakan Tuhan.

Monday, September 24, 2018

Kebiasaan Bersih Bersih di Jepang

"Ngapain sih bersih-bersih di sekolah? Emang sekolah nggak mampu bayar tukang bersih? Aku sekolah bukan buat jadi tukang bersih-bersih, tau! Hhh..."

Mungkin  ada pikiran, bahkan keluhan yang terlontar ketika kita disuruh bersih-bersih di sekolah. Adakah yang punya pengalaman tersebut? Kalau ada, nggak usah ngacung. Simpan saja di hati kalian masing2.

Saya yakin pikiran negatif tersebut akan tergantikan menjadi pikiran positif jika berkesempatan mengintip sistem di sekolah dasar Jepang.

Di SD jepang, tidak ada Janitor alias Mamang-Mamang tukang bersih-bersih sekolah. Semua siswa setiap hari dibiasakan membersihkan sekolah.

Ada yang membersihkan jendela, loker, lorong depan kelas. Ada yang menyapu, mengepel lantai dan lain-lain.

Jadwal piket kebersihanlah yg memastikan semua dapat giliran secara adil dan teratur.

Semua tampak normal, tiada beban yang berlebihan. Tampaknya kebiasaan ini sudah mengakar di setiap siswa , guru dan staf. 

Ya, para guru dan staf juga mempunyai giliran membersihkan sekolah. Ada yang membersihkan toilet, tempat cuci tangan, dan lain sebagainya.

Jadi setiap orang yang memakai sarana sekolah tersebut dibiasakan untuk membersihkannya. Bahkan para orangtua siswa pun diajak untuk melakukan kebiasaan ini.

Setahun sekali para orangtua diberi kesempatan untuk menjadi petugas
bersih2 halaman sekolah.  Atau ada juga tugas mencuci gorden jendela sekolah.

Semua yang berkepentingan dengan sekolah dikondisikan agar ikut memikirkan sekolah, termasuk kebersihannya. Semua dilibatkan untuk merawat, menjaga kebersihan dan keindahan sekolahnya.

Dulu sempat mikir, kapan sih para Guru ini  bersih-bersih?? Sampai suatu waktu saya tahu berapa lama para guru tersebut berada di sekolah .

Perlu diketahui jam belajar siswa dimulai dari pukul 8.45 pagi sampai pukul 15.30. Para guru dan staf jam 6.30 sudah tiba di sekolah. Ajaibnya selesai jam sekolah pun mereka masih bekerja di sekolah sampai malam. Rata2 mereka pulang jam 22.00 malam. Bayangkan! Setiap hari! Terkadang Sabtu yang seharusnya libur pun harus ke sekolah.

Bayanganku di sela-sela waktu itu mungkin para guru dan staf bersih-bersih. Wong lama sih di sekolahnya. Dan tentu saja mereka pun harus mengerjakan tugas wajib mereka yaitu membuat bahan ajar, mereview keadaan anak didik, mengunjungi rumah siswa, dan lain sebagainya.

Sekolah dasar di Jepang mengutamakan pendidikan karakter. Bisa dibilang  nilai kebersihan berada di atas nilai kognitif.

Kebiasaan ini mengakar karena kebudayaan yang sudah ada di Jepang dari dahulu kala.

Konon ada ajaran Bushido yang setiap akan  latihan, mereka diwajibkan membersihkan pedang mereka terlebih dahulu. Ajarannya mengatakan," kalau giat  bersih-bersih maka jiwa pun akan bersih".

Pun di dalam ajaran Budha yang dulu banyak di anut oleh orang Jepang. Ajarannya mengatakan:
1. Berjerih payahlah untuk menjaga kebersihan dan keindahan.
2. Giatlah bekerja mencari nafkah.
3. Giatlah mencari ilmu.

Giat mencari ilmu (kognitif) ada di tingkatan nomor 3, sementara kegiatan membersihkan ini berada di nomor 1.

Kegiatan bersih-bersih di sekolah Jepang memiliki makna yang dalam. Selain menanamkan kebiasaan baik untuk menjaga lingkungan sekolah agar  kondusif ketika kegiatan belajar dan mengajar. Juga banyak nilai moral yang ditanamkan dari bersih-bersih ini.

Salah satunya, bentuk empathy kepada orang lain agar bisa nyaman menggunakan fasilitas sekolah. Menjaga agar barang2 awet hingga adik kelas bisa nyaman menggunakannya. Meski untuk adik kelas yang jauh usianya di bawah mereka, dan belum terdaftar di sekolah tersebut.

Dari kebiasaan bersih-bersih, anak-anak terjaga dari mengkotori atau merusak fasilitas sekolah karena sekolah milik bersama. Dan tentunya dari keringat setelah bersih2, para siswa jadi terjaga untuk mengotori lingkungannya. Karena tahu payahnya untuk membersihkannya. Timbulah rasa hormat dan menghargai kepada orang yang telah membersihkannya  terlebih dahulu.

Oh iya, kebiasaan bersih2 ini. Ditanamkan di sekolah dalam segala bidang.

Dimulai dari para siswa dibiasakan untuk memilah ketika membuang sampah . Ada tong sampah untuk sampah basah, sampah kertas, sampah plastik, sampah botol, sampah kaleng, sampah untuk kartrid dan sebagainya.

Juga ditanamkan di setiap kesempatan. Misal, ketika makan siang.

Anak2 harus memakai masker ketika piket menyediakan makan siang. Lalu ketika selesai harus mengelap meja bekas makan tadi. Memilah sampah untuk sedotan, untuk bungkus kotak susu dan untuk sampah basah. Juga menyusun piring2 kosong tersebut agar mudah untuk dicuci oleh koki sekolah.

Awalnya mamak juga kikuk nggak tahu apa yg harus dilakukan ketika makan siang bersama para Guru dan staf lainnya.Maklum...belum terbiasa. Persis kayak si Iteung saba kota. Celingukan...hehe.

Para Guru dan Staf melakukan hal yg sama dengan murid-muridnya. Selesai makan harus mengelap,memilah dan sebagainya.

Pengalaman pertama bikin keringat dingin deh..Tapi anehnya ikut bersemangat, terdorong untuk melakukan hal yang sama. Lingkungan yang sangat berenergi positif! Tentu saja mamak sambil nanya ini dan itu...cara buang yang benar dan lain sebagainya.

Di beberapa negara lainnya, ada juga yg memberlakukan kegiatan bersih-bersih sekolah. Tapi esensi bersih-bersihnya ada yang berbeda dengan di Jepang.

Misal, karena sekolah tidak ada biaya untuk membayar tukang bersih2, maka disuruhlah anak2 untuk menyapu dan mengepel sekolah. Bahkan membersihkan toilet dijadikan hukuman untuk siswa yg bermasalah. Sementara  itu si Guru duduk2 ngupi or ngeteh di depan anak-anak yang lagi keringatan ngelap dan nyapu. Oh noo... plisss deh.

Saturday, September 15, 2018

Hari Lansia di Jepang

Hari Penghormatan bagi Lansia.

Loh, memangnya lansia di Jepang tidak dihomati ya? Sampai harus menetapkan peringatan untuk Lansia? Mengapa ada hari libur yang disebut sebagai Hari Lansia itu sih?

Konon pada tahun 1947, di sebuah desa di Prefektur Hyogo, menetapkan adanya hari 年寄りの日Toshiyori no Hi (Hari orang tua), dengan slogannya “Kita pinjam akal pikiran orang yang tua untuk membangun desa kita”. Karena tanggal 15 September itu dianggap merupakan hari paling cerah, maka setiap tanggal 15 September itu diperingati Hari Lansia, dan dari desa tersebut pada tahun 1950 menyebar ke seluruh prefektur, dan pada tahun 1966 resmi hari Lansia ini menjadi hari libur nasional. (Hebat ya…mulai dari desa tuh..)

Sampai dengan tahun 2002, Hari Lansia敬老の日 ini selalu diperingati setiap tanggal 15 September apapun harinya. Tapi sejak ada kebijaksanaan Happy Monday (membuat hari libur beruntun Sabtu, Minggu, Senin, seperti di Indonesia lah), maka sejak tahun 2003 berubah menjadi Minggu ke 3 bulan September.

Lalu pada hari ini Lansia ngapain? Ya biasa saja sih, tapi biasanya dari pemerintah daerah di tempat tinggalnya, ada hadiah dibagikan pada lansia ini (biasanya berupa kue Jepang Manju merah putih atau Kastela). Ada juga pemda yang memberikan angpao (hadiah berupa uang). Bagi lansia yang punya cucu-cucu biasanya hari ini juga bisa diadakan “pertemuan” keluarga. Makan-makan dan minum-minum gitchuu.

Bila ditanya, yang namanya Lansia itu dari usia berapa? Hmmm susah juga ya. Jawabannya semua orang yang sudah tua = lansia. Semestinya dari usia 60 tahun karena dalam kalender Cina (Shio) manusia itu genap 5 kali mengalami satu putaran kehidupan yang lamanya 12 tahun (Satu putaran itu ada 12 shio) dan dalam bahasa Jepangnya disebut Kanreki 還暦. Pada usia 60 tahun ini juga biasanya pegawai akan berhenti pensiun. Orang yang memperingati ulang tahun ke 60 ini akan diberikan 赤いちゃんちゃんこ akai-chanchanko yaitu sejeniss rompi dan topi berwarna merah. Tapi karena usia harapan hidup orang Jepang semakin tinggi, umur 60 tahun belum dianggap tua. Kalau boleh saya menetapkan (menurut saya loh) Lansianya Jepang itu mulai 70 tahun.

Nah sebetulnya ada beberapa peringatan khusus bagi lansia setelah Kanreki (60 tahun), dan masing-masing ada namanya.

Usia 70 th, namanya 古希 KOKI, warna ungu
Usia 77 th, namanya 喜寿 KIJU, warna ungu.
Usia 80 th, namanya 傘寿 SANJU, warna kuning
Usia 88 th, namanya 米寿 BEIJU, warna kuning
Usia 90 th, namanya 卒寿 SOTSUJU, warna putih
Usia 99 th, namanya 白寿HAKUJU, warna putih
Usia 100 th, namanya 紀寿 atau 百寿 KIJU atau HYAKUJU, warna putih
Usia 108 th, namanya 茶寿 chaju, 111th 皇寿 kouju dan 120 th大還暦 daikanreki. Sebutan-sebutan peringatan ini juga menarik, jika dilihat dari penulisan kanjinya (tapi sulit untuk bisa saya terangkan tertulis).

Tapi perlu diperhatikan bahwa selain kanreki yang diperingati persis waktu seseorang berulang tahun ke 60, peringatan lainnya biasanya diperingati menurut 数え歳 kazoedoshi, yaitu dikurangi 1 tahun. Kazoedoshi ini terjadi karena perhitungan jika bayi lahir itu sudah berusia 1 tahun. Saya pernah salah terlewatkan memperingati KIJU untuk bapak mertua, pikirnya pas dia berulangtahun ke 77, tahunya sudah terlewat, justru saat itu dia sudah 78 th menurut kazoedoshi.

Jumlah lansia tahun 2018 belum diumumkan tapi tahun lalu saja  jumlahnya sudah 27,7 persen dari jumlah penduduk sebanyak 35 juta jiwa. Fenomena 高齢化社会 masyarakat yang semakin menua ini di satu pihak menggembirakan, tapi di lain pihak membawa masalah bagi negara. Tapi saya selalu senang melihat lansia di Jepang, banyak yang tetap bersemangat untuk hidup sehat dan tetap beraktifitas/ berguna bagi masyarakat. Semoga kita semua bisa seperti lansia Jepang ya.....

Thursday, August 23, 2018

Festival Bunga Matahari Kiyose 18-28 Agustus 2018

Ke lokasi ini bisa diakses dengan seibu ikebukuro line, turun di stasiun kiyose, pintu utara, halte nomor 2 bus no. 61. turun di グリーンタウン.

Ada 100.000 bunga matahari dengan luas 240.000 meter persegi.

Kalau mau kesini sebaiknya bawa makansn, karena daerahnya lumayan Tokyo pinggiran alias kampung.hehe.

Thursday, August 16, 2018

Obon

Minggu ini liburan obon, berbarengan dengan natsu yasumi (summer holiday). Hari ini saya dapat penjelasan tentang obon dari Imelda sensei.

OBON itu apa sih? Kalau lihat tulisan kanjinya お盆 bisa terlihat ada kanji piring 皿. Obon itu adalah nampan tempat meletakkan sesuatu. Nah kenapa masa tanggal 13-16 Agustus ini disebut OBON? Rupanya merujuk pada sesaji yang diletakkan di piring dan ditaruh di depan altar Buddha. Masa khusus untuk keluarga memanggil arwah keluarga untuk pulang ke rumah (迎え火 mukaebi) , melewati waktu bercengkerama dengan anggota keluarga yang berkumpul dan pada akhirnya pada tanggal 16 mengantar sang arwah untuk pulang (送り火 okuribi).

Dalam menyambut obon ini, bagi yang “berduit” akan memanggil pendeta Buddha untuk datang ke rumah dan berdoa di depan 仏壇 Butsudan (altar buddha tempat bersemayam “jiwa” nenek moyang). Sang Pendeta berpakaian pendeta putih dengan kimono luar berwarna hitam dari bahan jala, dan dilengkapi dengan topi “caping” untuk melindungi kepala. (Saya pernah bertanya kira-kira berapa membayar pendeta datang waktu obon, dan dijawab sekitar 100.000 yen. Hmmm pantas hanya orang kaya yang tinggal di rumah besar saja yang “berani” memanggil pendeta untuk datang).

Dalam masa OBON ini, Butsudan atau altar Buddha di rumah akan dihias dengan lampion khusus, makanan persembahan seperti buah-buahan dan kue manis, selain dupa dan batang incense お香 oko, serta bunga houzuki ほうずきyang aneh karena seperti bunga kertas melembung. Saya baru tahu bahwa namanya di Indonesia adalah ceplukan.

Adapula daerah yang menghanyutkan sesajen ini ke sungai atau laut. Sesajen akan ditaruh dalam sebuah perahu kecil dan dihanyutkan bersamaan dengan lilin. Konon ini mendoakan mereka yang kehilangan nyawanya ditelan air dan ombak.

Tetapi ini adalah tradisi yang lambat laun menghilang. Bagi warga jepang modern sekarang OBON disambut gembira karena bisa meliburkan diri dari kesibukan pekerjaan dan terik matahari. Memang pertengahan Agustus itu merupakan puncak panas-panasnya udara di Jepang. Bagi yang tidak mempunyai 仏壇 Butsudan (karena bukan anak pertama) maka cukup melakukan ziarah, nyekar ke makam keluarga, yang biasanya terletak di halaman kuil. Dan merupakan pengetahuan umum pula, bahwa makam dan kuil Buddha itu biasanya terletak di tempat yang tinggi, berbukit, dan biasanya masih banyak “hijau” pepohonan.

Bagi keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang baru meninggal, dan sudah lewat hari ke 49 (四十九日)nya, memperingati Obon pertama yang disebut 初盆 hatsubon atau 新盆 shinbon/niibon. Di daerah-daerah, keluarga akan menerima kedatangan selain saudara juga teman-teman dekat dari yang baru meninggal, yang membawa sesuatu untuk dipersembahkan.

Pada waktu OBON ini juga biasanya diadakan tari bersama yang disebut BON Odori 盆踊り. Dengan membuat lingkaran biasanya dinyanyikan bersama “Tsukiga deta deta, tsuki ga deta ya yoi yoi……” Gerakannya mudah dan saya pernah diajari : hotte hotte mata hotte (hotte= menggali, dengan gerakan menggali kanan-kiri) katsuide katsuide sagatte (katsuide = memikul memikul mundur ), lalu tepuk tangan seperti membersihkan tangan dari pasir. Tentu gerakan BON Odori berbeda di tiap daerah, tapi yang saya pelajari disebut dengan tankobushi 炭坑節 (tari penambangan batu bara) dari daerah Shizuoka. Setiap saya menarikan Bon Odori saya pasti ingat tari Sajojo deh, tarian massal di Indonesia. Tapi sepertinya gerakannya susah ya? Soalnya saya tidak bisa :D mending Bon Odori deh.

Oh ya ada satu lagi yang belum saya terangkan di sini, yaitu keberadaan Terong dan Kyuri yang diberi kaki 4, yang kadang kala tidak hanya ditaruh di depan altar, tapi juga di depan rumah. Ini adalah 精霊馬 shoryouma atau kendaraan yang dipakai oleh arwah untuk datang dan pulang. Datang dengan kyuri きゅうり (melambangkan kuda) dan pulang naik terong ナス (melambangkan sapi). Maksudnya datang naik kuda supaya cepat sampai, dan pulangnya pelan-pelan saja naik sapi :D Yang lucu ada beberapa orang Jepang yang humoris, membuat ketimunnya bukan berbentuk kuda, tapi kapal terbang. Konon kakeknya yang meninggal adalah pilot pesawat. Atau ada juga yang berbentuk sepeda Harley.

Thursday, August 9, 2018

Hari Gunung (tiap musim panas atau Agustus)

Hari ini saya dapat tambahan pelajaran dari Imelda sensei mengenai hari gunung di Jepang.

HARI GUNUNG

Hallo teman-teman, apa kabar? Jumpa lagi dalam bahasan Bahasa dan Budaya Jepang.
Kalau tulisan saya terakhir tentang Hari LAUT, kali ini saya ingin menulis tentang Hari GUNUNG. Ceritanya si Gunung tidak mau kalah dengan si Laut, sampai mau menjadi hari libur Nasional Jepang :D .

Jadi kalau teman-teman melihat tanggalan bulan Agustus, pasti tanggal 11 Agustus y.a.d. berwarna merah dan merupakan hari libur resmi. Dan hari Gunung ini sebetulnya baru “dirayakan” dua tahun saja! Yaitu sejak 2016 yang lalu.

Memang sepertinya Jepang sedang berusaha memperbanyak hari libur untuk mengerem atau memperpendek hari kerja orang Jepang (meskipun dipantek hari libur setengah tahun pun orang Jepang akan tetap bekerja di hari libur :D ), dengan memutuskan Happy Monday (menggeser hari libur ke hari Senin sehingga bisa libur berturut-turut dan menambah hari libur meskipun penetapan Yama no hi 山の日 ini dilakukan setelah 20 tahun berlalu sejak penetapan Hari Laut.

Selain daripada tujuan penetapan yang “membuat warga lebih menyadari keberadaan gunung dan menghargainya”, sebetulnya tidak ada latar belakang sejarah yang mendukung, seperti saudaranya si Hari Laut. Dengan tidak ada latar sejarahnya ini memang yang membuktikan bahwa pemerintah “mencari-cari” kesempatan untuk meliburkan warganya di bulan Agustus.

Dalam penggodokan penentuan tanggal untuk diperingati sebagai Yama no hi, awalnya ditentukan tanggal 12 Agustus. Tapi pada tanggal itu pada tahun 1985, telah terjadi kecelakaan jatuhnya pesawat 墜落事故 JAL dengan nomor penerbangan 123 di daerah Osutakano one (Prefektur Gunma) yang menelan korban 520 orang. Kecelakaan ini merupakan kecelakaan terparah dalam bidang penerbangan. Jadi, rasanya tidak etis untuk merayakan Hari Gunung pada tanggal 12. Sedangkan jika diundur ke tanggal 13, juga tidak bisa karena biasanya pada tanggal 13-14-15 Jepang merayakan Obon (meskipun bukan tanggal merah, biasanya orang Jepang pulang kampung pada hari-hari ini). Jadilah Hari Gunung dirayakan pada tanggal 11 Agustus, dan menjadi hari libur yang ke 16 dalam satu tahun di Jepang.

Jadi kesempatan juga untuk teman-teman menikmati gunung di Jepang ya? Saya sendiri belum pernah mendaki Gunung Fuji. Orang asing 外人 biasanya menyebutkan Gunung Fuji adalah Fujiyama, sedangkan orang Jepang menyebutnya dengan Fujisan. Mengapa? Sebetulnya memang kanji 山 itu bisa dibaca “yama”, dan bisa dibaca “san” (atau "zan"), jadi tidak salah kalau disebut dengan Fujiyama. Tapi orang Jepang menyebutkan Fujisan itu konon karena lebih menghormati gunung Fuji, layaknya menghormati manusia yang juga dipanggil dengan -san.

Tapi tahukah teman-teman ada berapa banyak gunung sih di Jepang? Sebetulnya Jepang itu selain bisa disebut sebagai “negara kepulauan”, juga bisa disebut dengan “negara gunung”, karena jumlahnya 16.667 gunung (menurut peta dengan skala 1:25.000)! Dan ini masih ada yang tidak tercantum namanya, sehingga mungkin lebih banyak lagi jumlahnya. Gunung yang tertinggi di Jepang tentu adalah Fujisan (3776MDPL) Sedangkan gunung yang terendah, yang tercantum dalam peta skala 1:2.00 itu setinggi 5 meter yang terletak di Osaka dan bernama Tenbouzan 天保山.

Saking banyaknya gunung di Jepang, Fukuta Kyuya, seorang novelis dan pendaki gunung memilih 100 gunung populer di Jepang 日本百名山, dan biasanya menjadi panduan atau target pendaki gunung di Jepang. Boleh berbangga, bapak mertua saya sudah menyelesaikan pendakian 100 gunung populer di Jepang pada usia 74 tahun. Sayangnya sekarang beliau harus mengurus istrinya yang sakit sehingga tidak bisa memenuhi target 200 gunung populer di Jepang.

Saya sendiri sebetulnya takut ketinggian, sehingga takut mendaki. Tapi paling sedikit ada 2 gunung yang saya ingat pernah saya daki yaitu Nokogiriyama 鋸山 (330MDPL) di Chiba dan Hachijoji-shiroyama八王子城山 (446MDPL) di Tokyo. Untuk berikutnya mau coba Takaosan 高尾山 (599MDPL).... entah kapan.

Jadi, di hari Gunung nanti teman-teman akan mencoba mendaki gunung apa? Tenbouzan yang 5 meter saja itu? :D