Thursday, August 16, 2018

Obon

Minggu ini liburan obon, berbarengan dengan natsu yasumi (summer holiday). Hari ini saya dapat penjelasan tentang obon dari Imelda sensei.

OBON itu apa sih? Kalau lihat tulisan kanjinya お盆 bisa terlihat ada kanji piring 皿. Obon itu adalah nampan tempat meletakkan sesuatu. Nah kenapa masa tanggal 13-16 Agustus ini disebut OBON? Rupanya merujuk pada sesaji yang diletakkan di piring dan ditaruh di depan altar Buddha. Masa khusus untuk keluarga memanggil arwah keluarga untuk pulang ke rumah (迎え火 mukaebi) , melewati waktu bercengkerama dengan anggota keluarga yang berkumpul dan pada akhirnya pada tanggal 16 mengantar sang arwah untuk pulang (送り火 okuribi).

Dalam menyambut obon ini, bagi yang “berduit” akan memanggil pendeta Buddha untuk datang ke rumah dan berdoa di depan 仏壇 Butsudan (altar buddha tempat bersemayam “jiwa” nenek moyang). Sang Pendeta berpakaian pendeta putih dengan kimono luar berwarna hitam dari bahan jala, dan dilengkapi dengan topi “caping” untuk melindungi kepala. (Saya pernah bertanya kira-kira berapa membayar pendeta datang waktu obon, dan dijawab sekitar 100.000 yen. Hmmm pantas hanya orang kaya yang tinggal di rumah besar saja yang “berani” memanggil pendeta untuk datang).

Dalam masa OBON ini, Butsudan atau altar Buddha di rumah akan dihias dengan lampion khusus, makanan persembahan seperti buah-buahan dan kue manis, selain dupa dan batang incense お香 oko, serta bunga houzuki ほうずきyang aneh karena seperti bunga kertas melembung. Saya baru tahu bahwa namanya di Indonesia adalah ceplukan.

Adapula daerah yang menghanyutkan sesajen ini ke sungai atau laut. Sesajen akan ditaruh dalam sebuah perahu kecil dan dihanyutkan bersamaan dengan lilin. Konon ini mendoakan mereka yang kehilangan nyawanya ditelan air dan ombak.

Tetapi ini adalah tradisi yang lambat laun menghilang. Bagi warga jepang modern sekarang OBON disambut gembira karena bisa meliburkan diri dari kesibukan pekerjaan dan terik matahari. Memang pertengahan Agustus itu merupakan puncak panas-panasnya udara di Jepang. Bagi yang tidak mempunyai 仏壇 Butsudan (karena bukan anak pertama) maka cukup melakukan ziarah, nyekar ke makam keluarga, yang biasanya terletak di halaman kuil. Dan merupakan pengetahuan umum pula, bahwa makam dan kuil Buddha itu biasanya terletak di tempat yang tinggi, berbukit, dan biasanya masih banyak “hijau” pepohonan.

Bagi keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang baru meninggal, dan sudah lewat hari ke 49 (四十九日)nya, memperingati Obon pertama yang disebut 初盆 hatsubon atau 新盆 shinbon/niibon. Di daerah-daerah, keluarga akan menerima kedatangan selain saudara juga teman-teman dekat dari yang baru meninggal, yang membawa sesuatu untuk dipersembahkan.

Pada waktu OBON ini juga biasanya diadakan tari bersama yang disebut BON Odori 盆踊り. Dengan membuat lingkaran biasanya dinyanyikan bersama “Tsukiga deta deta, tsuki ga deta ya yoi yoi……” Gerakannya mudah dan saya pernah diajari : hotte hotte mata hotte (hotte= menggali, dengan gerakan menggali kanan-kiri) katsuide katsuide sagatte (katsuide = memikul memikul mundur ), lalu tepuk tangan seperti membersihkan tangan dari pasir. Tentu gerakan BON Odori berbeda di tiap daerah, tapi yang saya pelajari disebut dengan tankobushi 炭坑節 (tari penambangan batu bara) dari daerah Shizuoka. Setiap saya menarikan Bon Odori saya pasti ingat tari Sajojo deh, tarian massal di Indonesia. Tapi sepertinya gerakannya susah ya? Soalnya saya tidak bisa :D mending Bon Odori deh.

Oh ya ada satu lagi yang belum saya terangkan di sini, yaitu keberadaan Terong dan Kyuri yang diberi kaki 4, yang kadang kala tidak hanya ditaruh di depan altar, tapi juga di depan rumah. Ini adalah 精霊馬 shoryouma atau kendaraan yang dipakai oleh arwah untuk datang dan pulang. Datang dengan kyuri きゅうり (melambangkan kuda) dan pulang naik terong ナス (melambangkan sapi). Maksudnya datang naik kuda supaya cepat sampai, dan pulangnya pelan-pelan saja naik sapi :D Yang lucu ada beberapa orang Jepang yang humoris, membuat ketimunnya bukan berbentuk kuda, tapi kapal terbang. Konon kakeknya yang meninggal adalah pilot pesawat. Atau ada juga yang berbentuk sepeda Harley.

Thursday, August 9, 2018

Hari Gunung (tiap musim panas atau Agustus)

Hari ini saya dapat tambahan pelajaran dari Imelda sensei mengenai hari gunung di Jepang.

HARI GUNUNG

Hallo teman-teman, apa kabar? Jumpa lagi dalam bahasan Bahasa dan Budaya Jepang.
Kalau tulisan saya terakhir tentang Hari LAUT, kali ini saya ingin menulis tentang Hari GUNUNG. Ceritanya si Gunung tidak mau kalah dengan si Laut, sampai mau menjadi hari libur Nasional Jepang :D .

Jadi kalau teman-teman melihat tanggalan bulan Agustus, pasti tanggal 11 Agustus y.a.d. berwarna merah dan merupakan hari libur resmi. Dan hari Gunung ini sebetulnya baru “dirayakan” dua tahun saja! Yaitu sejak 2016 yang lalu.

Memang sepertinya Jepang sedang berusaha memperbanyak hari libur untuk mengerem atau memperpendek hari kerja orang Jepang (meskipun dipantek hari libur setengah tahun pun orang Jepang akan tetap bekerja di hari libur :D ), dengan memutuskan Happy Monday (menggeser hari libur ke hari Senin sehingga bisa libur berturut-turut dan menambah hari libur meskipun penetapan Yama no hi 山の日 ini dilakukan setelah 20 tahun berlalu sejak penetapan Hari Laut.

Selain daripada tujuan penetapan yang “membuat warga lebih menyadari keberadaan gunung dan menghargainya”, sebetulnya tidak ada latar belakang sejarah yang mendukung, seperti saudaranya si Hari Laut. Dengan tidak ada latar sejarahnya ini memang yang membuktikan bahwa pemerintah “mencari-cari” kesempatan untuk meliburkan warganya di bulan Agustus.

Dalam penggodokan penentuan tanggal untuk diperingati sebagai Yama no hi, awalnya ditentukan tanggal 12 Agustus. Tapi pada tanggal itu pada tahun 1985, telah terjadi kecelakaan jatuhnya pesawat 墜落事故 JAL dengan nomor penerbangan 123 di daerah Osutakano one (Prefektur Gunma) yang menelan korban 520 orang. Kecelakaan ini merupakan kecelakaan terparah dalam bidang penerbangan. Jadi, rasanya tidak etis untuk merayakan Hari Gunung pada tanggal 12. Sedangkan jika diundur ke tanggal 13, juga tidak bisa karena biasanya pada tanggal 13-14-15 Jepang merayakan Obon (meskipun bukan tanggal merah, biasanya orang Jepang pulang kampung pada hari-hari ini). Jadilah Hari Gunung dirayakan pada tanggal 11 Agustus, dan menjadi hari libur yang ke 16 dalam satu tahun di Jepang.

Jadi kesempatan juga untuk teman-teman menikmati gunung di Jepang ya? Saya sendiri belum pernah mendaki Gunung Fuji. Orang asing 外人 biasanya menyebutkan Gunung Fuji adalah Fujiyama, sedangkan orang Jepang menyebutnya dengan Fujisan. Mengapa? Sebetulnya memang kanji 山 itu bisa dibaca “yama”, dan bisa dibaca “san” (atau "zan"), jadi tidak salah kalau disebut dengan Fujiyama. Tapi orang Jepang menyebutkan Fujisan itu konon karena lebih menghormati gunung Fuji, layaknya menghormati manusia yang juga dipanggil dengan -san.

Tapi tahukah teman-teman ada berapa banyak gunung sih di Jepang? Sebetulnya Jepang itu selain bisa disebut sebagai “negara kepulauan”, juga bisa disebut dengan “negara gunung”, karena jumlahnya 16.667 gunung (menurut peta dengan skala 1:25.000)! Dan ini masih ada yang tidak tercantum namanya, sehingga mungkin lebih banyak lagi jumlahnya. Gunung yang tertinggi di Jepang tentu adalah Fujisan (3776MDPL) Sedangkan gunung yang terendah, yang tercantum dalam peta skala 1:2.00 itu setinggi 5 meter yang terletak di Osaka dan bernama Tenbouzan 天保山.

Saking banyaknya gunung di Jepang, Fukuta Kyuya, seorang novelis dan pendaki gunung memilih 100 gunung populer di Jepang 日本百名山, dan biasanya menjadi panduan atau target pendaki gunung di Jepang. Boleh berbangga, bapak mertua saya sudah menyelesaikan pendakian 100 gunung populer di Jepang pada usia 74 tahun. Sayangnya sekarang beliau harus mengurus istrinya yang sakit sehingga tidak bisa memenuhi target 200 gunung populer di Jepang.

Saya sendiri sebetulnya takut ketinggian, sehingga takut mendaki. Tapi paling sedikit ada 2 gunung yang saya ingat pernah saya daki yaitu Nokogiriyama 鋸山 (330MDPL) di Chiba dan Hachijoji-shiroyama八王子城山 (446MDPL) di Tokyo. Untuk berikutnya mau coba Takaosan 高尾山 (599MDPL).... entah kapan.

Jadi, di hari Gunung nanti teman-teman akan mencoba mendaki gunung apa? Tenbouzan yang 5 meter saja itu? :D

Friday, July 6, 2018

Tanabata Matsuri Perayaan Setiap 7 Juli

Saya mendapat sharing ilmu dari Imelda Sensei. Semoga bermanfaat.

Tanabata ★Dilema Cinta LDR★

Apa kabarnya teman-teman? Semoga tetap sehat dalam cuaca yang panas dan lembab ini. Tak terasa sudah memasuki bulan Juli dan seperti pernah saya bahas dulu, ada peringatan sekku 節句 di Jepang 1-1, 3-3, 5-5, 7-7 dan 9-9. Kali ini saya akan menulis peringatan sekku yang 7- 7 atau tanggal 7 Juli. Memang bukan hari libur, tapi ramai deh di Jepang.

Tanggal 7 bulan Juli adalah peringatan Tanabata dengan Festival Tanabata七夕祭りdi mana-mana. Dan mungkin kalau ada teman-teman yang punya anak TK, bisa melihat ranting-ranting Sasa 笹 atau bambu yang digantungkan kertas-kertas tanzaku 短冊bertuliskan permohonan anak-anak.  Tentu saja tidak hanya di sekolah, di mal atau tempat umum lainnya banyak pula yang memasang ranting sasa (bambu) dan menyediakan kertas permohonan untuk dipasang.

Kebiasaan merayakan Tanabata ini memang aslinya dari Cina, yang diperkenalkan di Jepang waktu pemerintahan kaisar wanita Koken pada jaman Nara/Heian. Tapi baru berkembang di seluruh lapisan masyarakat pada Zaman Edo/Tokugawa. Kebetulan waktunya berdekatan dengan Obon yang waktu itu dirayakan sekitar tanggal 15 Juli (sampai sekarang masih ada yang merayakan Obon di bulan Juli). Sehingga perayaan Tanabata di Jepang banyak berubah daripada tanabata aslinya. Tapi kemudian Obon dirayakan bulan Agustus, sehingga pada tanggal bulan Juli memang didominasi perayaan Tanabata. Tapi kalau mau melihat Festival Tanabata yang terkenal di Sendai, mereka mengadakannya justru di bulan Agustus.

Asal usul perayaan Tanabata di Jepang berasal dari Legenda Tanabata yaitu kisah cinta Orihime dengan Hikoboshi. Orihime adalah putri Raja Langit (Tentei) yang pandai menenun. Dikatakan Orihime ini adalah bintang Vega yang merupakan bintang tercerah dalam rasi bintang Lyra. Raja Langit sangat suka tenunan Orihime, sehingga Orihime kerjanya hanya menenun saja. Orihime sedih karena kalau dia hanya menenun saja, bagaimana bisa mendapat jodoh. Nah, sang bapak kemudian mengatur pertemuan dengan Hikoboshi yang merupakan penggembala sapi di seberang Amanogawa (Galaksi Bima Sakti). Hikoboshi ini dianggap sebagai Bintang Altair yang berada di rasi bintang Aquila. Begitu Orihime bertemu Hikoboshi, mereka jatuh cinta dan menikah. Tapi karena itu, Orihime tidak lagi menenun, dan Hikob tidak lagi menggembala (maklum lah pak… kan masih pengantin baru :D). Raja Langit kemudian sangat marah dan keduanya dipaksa berpisah. Orihime dan Hikoboshi tinggal dipisahkan sungai Amanogawa (galaksi Bima Sakti) dan hanya diizinkan bertemu setahun sekali di malam hari ke-7 bulan ke-7. Tetapi ternyata meskipun mereka diizinkan bertemu, mereka tidak bisa menyeberangi sungai Amanogawa karena tidak ada jembatan yang menghubungi.  Sekawanan burung kasasagi terbang menghampiri Hikoboshi dan Orihime yang sedang bersedih dan berbaris membentuk jembatan yang melintasi sungai Amanogawa supaya Hikoboshi dan Orihime bisa menyeberang dan bertemu. Tapi kalau kebetulan hujan turun, burung-burung itu tidak bisa datang dan membantu mereka menyeberang sungai sehingga harus menunggu setahun lagi ☹ . Susah memang kalau LDR ya .....

Sebelum menutup tulisan, saya prediksi ada yang bertanya : “Pada perayaan Tanabata, ada makanan khususnya tidak?” Saya juga penasaran karena selama ini belum tahu, sehingga saya cari info. Biasanya yang saya tahu ada beberapa Wagashi 和菓子(kue Jepang) yang berhiaskan bintang, atau memakai warna biru yang melambangkan Amanogawa. Tapi ternyata ada makanan khusus yang dimakan pada tanabata yaitu Sōmen 素麵 sejenis mie yang putih tipis. Somen itu bisa dibayangkan seperti aliran sungai Amanogawa kan? Dan ternyata juga tanggal 7 Juli ditetapkan menjadi Hari Somen :D (bisnis lagi deh :D )

Lalu selain somen ternyata ada juga kuenya, yaitu kue yang bernama Sakubei 索餅, kalau lihat fotonya seperti kue kepang manis. Konon kue ini dulu disajikan sebagai hidangan pada tanggal 7 Juli untuk memperingati anak Kaisar Cina yang meninggal karena sakit pada hari itu.

Sebagai tambahan tanggal 7 Juli juga merupakan Hari Yukata, sehingga banyak wanita memakai yukata menghadiri Festival Tanabata. Memang cocok ya.

Bagaimana? Sudah persiapkan wishlist untuk Tanabata? Mesti diingat bahwa wishlist pada Tanabata bukan berupa barang ya, soalnya Tanabatasama ini bukan Sinterklas :D. Beberapa tahun lalu saya pernah mencatat sebuah survey ranking wishlist orang Jepang waktu Tanabata yang terbanyak adalah :

1. Supaya semua anggota keluarga tetap sehat
2. Bisa melewati kehidupan yang gembira setiap hari
3. Menang lotere
4. Supaya kehidupan suami-istri awet dan berbahagia
5. Semoga Jepang dan seluruh dunia bisa hidup damai
6. Supaya bisa melakukan pekerjaan dan pelajaran
7. Supaya kondisi ekonomi dunia pulih
8. Supaya gaji naik
9. Supaya dietnya berhasil
10.  Supaya tidak terjadi gempa atau bencana lainnya
11. Supaya bisa menemukan pacar yang cocok
12. Supaya bisa tetap menjaga persahabatan dengan teman-teman yang sekarang
13.  Supaya bisa memiliki ………. (barang)  idaman
14.  Supaya bonus gaji bisa naik
15. Supaya bisa sehat dan kuat sehingga dapat bekerja keras
16. Supaya bisa menikah
17. Supaya bisa makan yang enak-enak
18. Supaya tetap awet dengan pacar yang sekarang
19. Supaya lulus ujian
20.  Supaya cintaku pada yang bertepuk sebelah tangan bisa terbalaskan.

Aku SEMUA kecuali 3, 11, 16, 18, dan 20 (sudah menikah soalnya hehehe, gawat deh kalau cari lagi yang baru :D ).

Tuesday, June 5, 2018

Pelangi Hari

Hidup itu seperti pelangi  Ada bermacam warna Indah diantara awan.
Begitu juga kehidupan  Ada tangis Dan Ada tawa
Ada sedih Dan Ada kebahagian.
Bersyukur lah Yg engkau Miliki bukan yang engkau mau, maka kebahagi terasa bila Yg kau miliki bisa terjaga Dan terpelihara.
Semangat selalu.

Tetap Semangat ya頑張ってね

“ Bila kau tak sanggup terbang, berlarilah
Bila kau tak sanggup berlari, berjalanlah
Bila kau tak sanggup berjalan, merangkaklah
Tapi pastikan apapun yang kau lakukan
Kau selalu bergerak maju.”
~Martin Luther King, Jr.

Saturday, June 2, 2018

1 Juni 2018

Merupakan tanggal bersejarah bagi saya, karena pertama kali meminum obat yang diberikan dokter untuk membersihkan rahim pasca keguguran. Setelah saya minum 4, tidak ada sesuatu yang keluar, tetapi setelah saya meminum 8 perut saya merasakan sangat mules, kram, mual, pusing, lemas, diare. 3 jam kemudian perut ini berasa seperti melahirkan, keluar darah kental, darah beku dan teman temannya. Innalilahi wa inna ilihi rjiun. Semoga Allah memberikan rejeki nak kembali untuk hamba. Aamiin.

Pelajaran Bulan Juni 2018

Saya hari ini.dapat pelajaran dari Imelda sensei mengenai aoi shingo (lampu hijau).

BIRU atau HIJAU sih?

Saya tidak tahu apakah teman-teman pernah mengalaminya. Awal datang ke Jepang (bahkan kadang sekarangpun) saya selalu berkata: “Pah, jalan... sudah MIDORI loh”. Dan dibetulkan suami saya, AO SHINGO (Lampu hijau) bukan MIDORI SHINGO.
Looooh... waktu belajar bahasa Jepang katanya AO itu BIRU. Itu jelas-jelas hijau kok bukan biru. Pigimana sih orang Jepang? :D :D :D

Tapi setelah saya kumpulkan nama barang-barang seperti:
青りんごAORINGO (apel hijau)
青虫AOMUSHI (ulat hijau) jadi ingat buku bergambar はらぺこあおむし
青菜AONA / Seisai (sayur hijau)
青葉AOBA(daun muda/baru) ini beneran daun muda, bukan yang kiasan loh :v
青梅(A)OUME (ume yang hijau) sekarang lagi banyak dijual loh
青田AOTA(sawah yang masih hijau)
青草AOKUSA (rumput hijau)
青汁AOJIRU (jamu yang hijau)
青唐辛子AOTOGARASHI (cabe hijau) selalu dicari ibu rt

Nah loh, semua berwarna hijau tapi dikatakan AO! Mengapa?

Kembali soal AOSHINGO, sebetulnya dahulu waktu pertama kali diperkenalkan pada tahun 1930 (di perempatan Hibiya), dalam peraturan lalin ditulis sebagai 緑信号 (midori shingo). TAPI kemudian karena wartawan salah menulis menjadi 青信号(aoshingo) , dan kemudian menyebar. Yang salah menjadi benar, sehingga akhirnya dalam peraturan lalin sesudah itu ditulis menjadi 青信号.

Tapi kenapa kesalahan itu menjadi benar? Apakah orang Jepang tidak merasa aneh memakai aoshingo padahal jelas-jelas midori? Konon diperkirakan karena orang Jepang terbiasa menyebutkan 青菜(aona atau seisai) atau bahkan sebagai kata sifat, “青々とした緑 aoaotoshitamidori” untuk kondisi daun hijau yang baru tumbuh (musim semi), jadi waktu dikatakan AOSHINGO, kata itu bisa langsung melebur dan dipakai tanpa ada rasa ragu lagi. Selain alasan itu, memang warna lampu hijau di Jepang itu kalau melihat pada chart warna maka warna lampu hijau di Jepang paling mendekati warna biru.

Sepertinya memang karena orang Jepang sering menyebutkan Aona, atau aoaotoshita midori 青々とした緑, jadi tidak risih memakai kata Aoshingo. Tapi masalah belum selesai! Kenapa juga pakai AONA bukan MidoriNa kan? Menurtu sejarahnya, warna awal di Jepang ada 4 yaitu Hitam 黒、Merah 赤, Putih 白 dan AO 青 warna-warna yang bisa ditambahkan kata (i) い di belakangnya. Dan AO ini memang mencakup warna hijau dan biru yang kita kenal sekarang. Ini bisa dilihat dari karya puisi WAKA 和歌yang terdapat dalam MANYOSHU 万葉集 tentang penggunakan kata ao untuk biru juga dan hijau juga. Jadi kata ao sudah ada sejak sebelum Manyoshu diciptakan (abad 7).

Pembedaan kata midori 緑 dan ao 青 sendiri baru muncul sekitar tahun 1100 (akhir jaman Heian-Kamakura) karena masyarakat Jepang mulai merasakan perbedaan antara warna biru dan hijau dan perlu menyampaikannya. Jadi di sini kata kuncinya, penamaan warna itu ada karena si penutur menginginkan dan akhirnya menyebar.

Sebetulnya dalam 30 tahun terakhir ada beberapa warna “baru” yang timbul dalam bahasa Jepang. Seperti “水色MIZUIRO”  (harafiahnya: warna air) untuk merujuk warna biru muda. Padahal kita tahu kan air tidak berwarna. Lalu warna “草色Kusairo“untuk warna rumput. Lalu ada juga penamaan 肌色 (warna kulit) atau yang aku suka sebut sebagai beige dan sekarang sudah dihapus karena tidak semua orang kulit berwarna demikian (kata-kata diskriminasi 差別用語). Awalnya kata-kata ini tidak ada, tapi karena populer di masyarakat kemudian timbul penamaan baru ini. Kalau begitu jika semua orang mengatakan “MIDORI SHINGO” mungkin saja 20 tahun kemudian AOSHINGO hilang dan digantikan Midori shingo kan? Tapi dari segi kepraktisan tentu saja lebih cepat mengatakan AOSHINGO daripada Midori shingo. Puanjang yaaaa :D